Siapa
yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan
dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan
siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan
baginya di dunia dan akhirat" (HR. Muslim).
Senin, 25 Maret 2013
Rabu, 20 Maret 2013
SAHABAT SANG
PAHLAWAN
Anda harus waspada dan berhati-hati!
Sebab, disini ada jebakan kepahlawanan yang sering menipu banyak orang. Sahabat
para pahlawan belum tentu juga pahlawan. Inilah tipuannya. Para pahlawan
mungkin tidak tertipu, tetapi orang-orang yang bersahabat dengan para
pahlawanlah yang lebih sering tertipu.
Dalam lingkungan pergaulan, para
pahlawan adalah parfum. Apabila berada ditengah kerumunan, maka semua orang
akan kecipratan keharumannya. Apabila ada “orang lain” yang mulai mendekat dan
mencium keharuman itu, mungkin ia sulit mengenali dari mana keharuman itu
berasal.
Situasi ini tentu saja menguntungkan
orang-orang yang mengerumuni sang pahlawan. Mendapatkan peluang untuk diduga
sebagai pahlawan. Itulah awal mula kejadiannya. Orang-orang biasa selalu merasa
puas dengan bergaul dan menjadi sahabat para pahlawan. Mereka sudah cukup puas
dengan mengatakan, “Oh, pahlawan itu sahabatku,” atau ungkapan “Oh, pahlawan
itu seangkatan denganku.” orang-orang itu tidak mau bertanya, mengapa bukan dia
yang menjadi pahlawan.
Akan tetapi, ada “orang biasa” yang
mempunyai sedikit rasa megaloman, semacam obsesi kepahlawanan yang tidak
terlalu kuat, namun ada dan meletup-letup pada waktu tertentu. Orang-orang
seperti ini sering merasa telah menjadi pahlawan hanya karena ia bersahabat
dengan para pahlawan. Dan karenanya, sering berperilaku seakan-akan dialah sang
pahlawan.
Yang kita saksikan dalam kejadian
ini adalah suatu proses identifikasi “orang biasa” dengan sahabatnya yang
“pahlawan”. Ini merupakan tipuan jiwa: seseorang tidak melakukan
pekerjaan-pekerjaan para pahlawan, tetapi mau menyandang gelar kepahlawanan,
dengan memanfaatkan kamuflase persahabatan.
Persahabatan memang sering menipu,
bukan karena tabiat persahabatan yang memang menyimpan tipuan, tetapi karena
sebuah “kebutuhan jiwa” tertentu, yang memanfaatkan persahabatan untuk
memenuhinya. Maka, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, suatu ketika memperingatkan para
“murid” yang sedang menuntut ilmu di bawah bimbingan para ulama. Katanya,
“Waspadalah, jangan merasa telah menjadi ulama, hanya karena bergaul dan
bersahabat dengan para ulama.”
Apakah kita harus meninggalkan
sahabat-sahabat kita yang para pahlawan itu? Tentu saja tidak! Yang perlu kita
lakukan adalah meluruskan perasaan kita sendiri dan meluruskan pandangan
terhadap diri kita sendiri. Suatu saat, Buya Hamka membawa istrinya kedalam
sebuah majelis, dimana ia akan berceramah. Tiba-tiba, tanpa diduga, sang
protokol juga mempersilahkan juga istri beliau untuk berceramah. Mereka tentu
berprasangka baik: istri sang ulama juga mempunyai ilmu yang sama. Dan, istri
beliau benar-benar naik ke podium. Buya Hamka terhenyak. Hanya satu menit.
Setelah memberi salam, istrinya berkata, “Saya bukan penceramah, saya hanya
tukang masak untuk sang penceramah.”
Jangan melakukan identifikasi diri
yag salah. Jangan menilai diri sendiri melampaui kadarnya yang objektif. Namun,
ada yang jauh lebih penting dari itu. Jangan pernah berpikir untuk menjadi
pahlawan, tanpa melakukan pekerjaan-pekerjaan para
pahlawan. [anismatta.wordpress.com]
Kamis, 14 Maret 2013
Tempat Paling Indah Adalah Rumah
Setiap orang pasti merasa bahagia
apabila melakukan perjalanan wisata, apalagi ketika mengunjungi tempat yang
jauh. Rekreasi ke Paris, wah, membayangkannya saja sudah merasa bahagia,
apalagi ketika berkesempatan mengunjunginya. Mengunjungi Zurich, Praha, Amsterdam,
waw, bahagia sekali rasanya. Namun sesenang-senangnya anda bepergian, tetap
saja anda ingin pulang. Saat pulang, ternyata lebih membahagiakan diri anda
lagi dibanding berangkatnya yang sudah bahagia.
Pertanyaannya adalah, kemana anda
pulang? Pulang sudah memiliki konotasi yang pasti, yaitu ke rumah. Anda tidak
akan pulang ke hotel atau penginapan, karena hotel hanyalah tempat transit saat
anda melakukan perjalanan. Anda tidak akan pulang ke terminal, stasiun atau
bandara, karena itu semua hanyalah tempat persinggahan transportasi yang
menghantarkan anda dari satu tempat ke tempat lainnya. Anda pasti pulang ke
rumah.
Ada apa di rumah kita? Mengapa kita
selalu ingin pulang ke rumah? Ada sangat banyak hal tersimpan di rumah kita. Pertama,
di rumah tersimpan berbagai kenangan dan harapan kita. Sangat mudah
memahaminya. Di rumah, kita beraktivitas bersama, tumbuh bersama, dan merasakan
segala dinamika, suka duka, di setiap sudut-sudutnya. Kita telah menyimpannya,
sangat dalam. Sangat berkesan. Kita tidak mungkin melupakannya begitu saja.
Kenangan dan harapan yang selalu kita ciptakan bersama seluruh anggota
keluarga, adanya di dalam rumah.
Kedua, di rumah kita mendapatkan ketenangan jiwa. Jika kita
sering menyebut istilah sakinah, mawadah dan rahmah, maka semua hanya ada di
rumah. Tidak kita jumpai di hotel mewah, tidak kita jumpai di rumah tetangga,
apalagi –maaf—di tempat prostitusi. Tidak. Kita menjumpai ketenangan itu hanya
di rumah. Betapa rasa tenang, aman, nyaman kita rasakan di dalam rumah, walau rumah
kita sederhana dan apa adanya. Saat rasa lelah dan jenuh melanda, maka pulang
ke rumah adalah pilihan yang tepat. Di rumah kita mendapat limpahan ketenangan.
Ketiga, di rumah kita mendapatkan semangat, energi dan spirit.
Aktivitas sehari-hari telah membuat kita mudah terjebak dalam kehidupan yang
mekanistik. Berbagai persoalan kehidupan yang kita temukan dalam dunia
pekerjaan dan profesi, seringkali membuat kita merasa kehabisan energi. Namun
pulang ke rumah telah membuat kita menemukan kembali energi, mendapatkan
limpahan spirit yang sangat besar. Bertemu suami, bertemu isteri, bertemu
orang-orang yang dicintai, telah membuat kita memiliki semangat untuk
memberikan yang terbaik.
Untuk itulah kita selalu ingin
pulang ke rumah. Tempat yang paling indah di seluruh dunia adalah rumah kita
sendiri. Karena di rumah kita, telah tersimpan jutaan memori yang tak mungkin
kita lupakan sepanjang hidup. Karena di rumah kita menanam berbagai harapan
masa depan. Karena di rumah, kita mendapatkan ketenangan, semangat, energi, dan
spirit kebaikan.
Mari saya ajak anda menyimak
nyanyian lama untuk memahami bagaimana ikatan emosi yang terbentuk antara
seseorang dengan rumahnya. Pertama, lagu dari Lucifer berjudul “House For
Sale”.
The sign went up one rainy morning
Just a couple of hours after dawn
Mrs. Hadley peaked out through her
curtains
Wondering what was going on
The neighbors said over coffee cups
That nice young couple is breaking
up
And in the living room the linen and
the crystals
Sit all packed and set to go
I tell myself once more I won’t be
here in spring
To see my roses grow
And all the things you tried to fix
The roof still leaks, the door still
sticks
House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine
And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share
I know you’ve always loved that
painting
From that funny little shop in Spain
Remember how we found it when we
ducked in
From that sudden summer rain
But I think I’ll keep the silver
tray
My mother gave us on our wedding day
House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine
And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share…
Luar biasa mendalam bukan? Rumah
yang terpaksa dijual, tapi demikian berat dirasakan karena ribuan kenangan yang
telah tersimpan di dalamnya. Tidak akan tergantikan oleh apapun.
Lagu jadul kedua berjudul “Green
Green Grass Of Home”, yang dinyanyikan oleh Tom Jones. Perhatikan penggambaran
kenangan tentang rumah yang sedemikian detail dan tersimpan kuat dalam ingatan.
The old home town looks the same
as I step down from the train,
and there to meet me is my Mama and
Papa.
Down the road I look and there runs
Mary
hair of gold and lips like cherries.
It’s good to touch the green, green
grass of home.
Yes, they’ll all come to meet me,
arms reaching, smiling sweetly.
It’s good to touch the green, green,
grass of home.
The old house is still standing,
tho’ the paint is cracked and dry,
and there’s that old oak tree that I
used to play on.
Down the lane I walk with my sweet
Mary,
hair of gold and lips like cherries.
It’s good to touch the green, green
grass of home.
Then I awake and look around me,
at the four grey walls that surround
me
and I realize, yes, I was only
dreaming.
For there’s a guard and there’s a
sad old padre –
arm in arm we’ll walk at daybreak.
Again I touch the green, green grass
of home.
Yes, they’ll all come to see me in
the shade of that old oak tree
as they lay me neath the green,
green grass of home.
Ayo pulang ke rumah. Di sanalah kita
mendapatkan sakinah, mawadah wa rahmah. Di sanalah kita menjumpai tempat
terindah. Di sanalah kita mendapatkan harapan-harapan yang menyebabkan hidup
kita lebih hidup.
Rabu, 13 Maret 2013
Segala puji bagi Allah, Maha Pemberi
Keberkahan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Barokah atau berkah selalu diinginkan oleh setiap orang.
Namun sebagian kalangan salah kaprah dalam memahami makna berkah sehingga
hal-hal keliru pun dilakukan untuk meraihnya. Coba kita saksikan bagaimana
sebagian orang ngalap berkah dari kotoran sapi. Ini suatu yang tidak logis,
namun nyata terjadi. Inilah barangkali karena salah paham dalam memahami makna
keberkahan dan cara meraihnya. Sudah sepatutnya kita bisa mendalami hal ini.
Makna Barokah
Dalam bahasa Arab, barokah bermakna
tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu.[1]
Tabriik adalah mendoakan seseorang agar mendapatkan keberkahan.
Sedangkan tabarruk adalah istilah untuk meraup berkah atau “ngalap
berkah”.
Adapun makna barokah dalam Al Qur’an
dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya
kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya[2].
Sebagaimana do’a keberkahan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
sering kita baca saat tasyahud mengandung dua makna di atas.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Maksud dari ucapan do’a “keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
karena engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim, do’a keberkahan
ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada
keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgengnya kebaikan dan
berlipat-lipatnya atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”.[3]
Seluruh Kebaikan Berasal dari Allah
Kadang kita salah paham. Yang kita
harap-harap adalah kebaikan dari orang lain, sampai-sampai hati pun bergantung
padanya. Mestinya kita tahu bahwa seluruh kebaikan dan keberkahan asalnya dari
Allah. Allah Ta’ala berfirman,
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ
تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ
مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ
”Katakanlah: "Wahai Tuhan
yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau
muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau
kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imron: 26). Yang dimaksud ayat “di
tangan Allah-lah segala kebaikan” adalah segala kebaikan tersebut atas kuasa
Allah. Tiada seorang pun yang dapat mendatangkannya kecuali atas kuasa-Nya.
Karena Allah-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Demikian penjelasan dari
Ath Thobari rahimahullah.[4]
Dalam sebuah do’a istiftah yang
diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan,
وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ
“Seluruh kebaikan di tangan-Mu.”
(HR. Muslim no. 771)
Langganan:
Postingan (Atom)